Wednesday, May 30, 2012

KONSEP CEMAS, STRESS DAN ADAPTASI (Konsep Dasar Keperawatan)


Empat tingkatan rasa cemas/gangguan perasaan (anxiety) pada manusia
1. Rasa cemas ringan
2. Rasa cemas sedang
3. Rasa cemas berat
4. Panik
Rasa cemas (anxiety) merupakan reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subyektif.
Penyebab rasa cemas dapat dikelompokkan pula menjadi tiga faktor, yaitu :
a. Faktor biologis/fisiologis, berupa ancaman akan kekurangan makanan, minuman, perlindungan dan keamanan.
b. Faktor psikososial, yaitu ancaman terhadap konsep diri, kehilangan orang/benda yang dicintai, perubahan status sosial/ekonomi.
c. Faktor perkembangan, yaitu ancaman pada perkembangan masa bayi, anak, remaja.
Gejala-gejala kecemasan
ditandai pada tiga aspek :
a. Aspek biologis/fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, tarikan nafas menjadi pendek dan cepat, berkeringat dingin, termasuk di telapak tangan, nafsu makan hilang, mual/muntah, sering buang air kecil, nyeri kepala, tak bisa tidur, mengeluh, pembesaran pupil dan gangguan pencernaan.
b. Aspek intelektual/kognitif; seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan perhatian dan keinginan, tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan, penurunan produktivitas, pelupa, orientasi lebih ke masa lampau daripada masa kini/masa depan.
c. Aspek emosional dan perilaku; seperti penarikan diri, depresi, mudah tersinggung, mudah menangis, mudah marah dan apatisme.
Pembagian rasa cemas
1. Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.
Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan berhati-hati/waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.
2. Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.
3. Rasa cemas berat: lapangan persepsi sangat menurun.
Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya.
Individu tak mampu berpikir lagi, dia sudah harus diberi pertolongan/tuntunan.
4. Panik: lapangan persepsi sudah sangat sempit. Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi.
Bila manusia salah orientasi; ketika menghadapi masalah pelik; rasa dan periksa tidak berfungsi;
Disebut orang sedang panik.
STRESS ADAPTASI
STRESS
Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri/jiwa dan realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari à perubahan yang memerlukan penyesuaian Sering dianggap sebagai kejadian atau perubahan negatif yang dapat menimbulkan stress, seperti cedera, sakit atau kematian orang yag dicintai, putus cinta Perubahan positif juga dapat menimbulkan stress, seperti naik pangkat, perkawinan, jatuh cinta
JENIS STRESS
Stress fisik
Stress kimiawi
Stress mikrobiologis
Stress fisiologis
Stress proses tumbuh kembang
Stress psikologis atau emosional
Pengalaman stress dapat bersumber dari :Lingkungan, Diri dan tubuh Pikiran
Reaksi Psikologis terhadap stress
a. Kecemasan
Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan Adalah emosi yang tidak menyenangkan à istilah “kuatir,” “tegang,” “prihatin,” “takut”fisik à jantung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur
b. Kemarahan dan agresi Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha membunuh orang
c. Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai rasa sedih
RESPON FISIOLOGI TERHADAP STRESS
Hans Selye (1946,1976) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh terhadap stress : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation Syndrome (GAS).
1. Local Adaptation Syndrom (LAS)
Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
1. respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system
2. respon bersifat adaptif; diperlukan stressor untuk menstimulasikannya.
3. respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
4. respon bersifat restorative.
Mungkin anda bertanya, “ apa saja yang termasuk ke dalam LAS ?”. sebenarnya respon LAS ini banyak kita temui dalam kehidupan kita sehari – hari seperti yang diuraikan dibawah ini :
a. Respon inflamasi
respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat. Respon inflamasi dibagi kedalam 3 fase :
• fase pertama :
adanya perubahan sel dan system sirkulasi, dimulai dengan penyempitan pembuluh darah ditempat cedera dan secara bersamaan teraktifasinya kini,histamin, sel darah putih. Kinin berperan dalam memperbaiki permeabilitas kapiler sehingga protein, leucosit dan cairan yang lain dapat masuk ketempat yang cedera tersebut.
• Fase kedua :
pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan ditempat cedera.
• Fase ketiga :
Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut.
b. Respon refleks nyeri
respon ini merupakan respon adaptif yang bertujuanmelindungi tubuh dari kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan benda tajam.
Bagaimana dengan GAS. Gas merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang terlibat didalamanya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di beberapa buku teks GAS sering disamakan dengan Sistem Neuroendokrin.
2. General Adaptation Syndrom (GAS)
a. Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun
Fase alarem melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
b. Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi à gejala stress menurun àtau normal
tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
c. Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersbut.
KONSEP ADAPTASI
Faktor penting yang mempengaruhi tingkah
laku manusia :
1. Kebutuhan
Kebutuhan badaniah
Kebutuhan psikologis
2. Dorongan
Menjamin agar manusia berusaha
memenuhi kebutuhannya.
Stress terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang dirasakan sebagai mengancam fisik atau psikologisnya
Peristiwanya di sebut stressor
Reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress.
Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya.
Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992).
Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang harus mampu berespons terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari seluruh individu.
DIMENSI ADAPTASI
Stres dapat mempengaruhi dimensi fisik, perkembangan, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Sumber adaptif terdapat dalam setiap dimensi ini. Oleh karenanya, ketika mengkaji adaptasi klienterhadap stress, perawat harus mempertimbangkan individu secara menyeluruh.
ADAPTASI FISIOLOGIS
Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang mengalami stress, dan indicator tersebut bervariasi menurut individunya. Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak mampu untuk beristirahat aberkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul sepanjang tahap stress.
Durasi dan intensitas dari gejala secara langsung berkaitan dengan durasi dan intensitas stressor yang diterima. Indikator fisiologis timbul dari berbagai sistem. Oleh karenanya pengkajian tentang stress mencakup pengumpulan data dari semua sistem.Hubungan antara stress psikologik dan penyakit sering disebut interaksi pikiran tubuh. Riset telah menunjukkan bahwa stress dapat mempengaruhi penyakit dan pola penyakit. Pada masa lampau,penyakit infeksi adalah penyebab kematian paling utama, tetapi sejak ditemukan antibiotic, kondisi kehidupan yang meningkat, pengetahuan tentang nutrisi yang meningkat, dan metode sanitasi yang lebih baik telah menurunkan angka kematian. Sekarang penyebab utama kematian adalah penyakit yang mencakup stressor gaya hidup.
Indikator fisiologis stress
1. Kenaikan tekanan darah
2. Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung.
3. Peningkatan denyut nadi dan frekwensi pernapasan
4. Telapak tangan berkeringat Tangan dan kaki dingin
5. Postur tubuh yang tidak tegap
6. Keletihan
7. Sakit kepala
8. Gangguan lambung
9. Suara yang bernada tinggi
10. Mual,muntah dan diare.
11. Perubahan nafsu makan
12. Perubahan berat badan
13. Perubahan frekwensi berkemih
14. Dilatasi pupil
15. Gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur
ADAPTASI PSIKOLOGIS
Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993).
Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :
 Ansietas
 Depresi
 Kepenatan
 Peningkatan penggunaan bahan kimia
 Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas.
 Kelelahan mental
 Perasaan tidak adekuat
 Kehilangan harga diri
 Peningkatan kepekaan
 Kehilangan motivasi.
 Ledakan emosional dan menangis.
 Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan.
 Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian).
 Mudah lupa dan pikiran buntu
 Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci.
 Preokupasi (mis. mimpi siang hari )
 Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas.
 Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit
 Letargi
 Kehilangan minat
 Rentan terhadap kecelakaan.
ADAPTASI PERKEMBANGAN
Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan.Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992).
Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan. Mereka mulai mnyedari bahwa akumulasi pengetahuan dan penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan , dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman.Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap stressor, tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992).
Dewasa muda berada dalam transisi dari pengalaman masa remaja ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stresor mencakup konflik antara harapan dan realitas.
MANAJEMEN STRESS
Manajemen stress kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran rrespon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan.
MANAJEMEN STRESS UNTUK KLIEN
—REGULER EXERCISE
—DIET DAN NUTRISI
—SUPPORT SISTEM
—TIME MANAGEMENT
—HUMOR
—ISTIRAHAT
—TEHNIK RELAKSASI
—SPIRITUALITAS
Cara Penyesuaian Diri
Bila seseorang mengalami stress maka segera ada usaha untuk mengatasinya. Hal ini dikenal sebagai Homeostasis yaitu usaha organisme yang terus menerus melakukan pertahanan agar keadaan keseimbangan selalu tercapai. Stress dapat terjadi pada bidang badaniah ( stress fisik atau somatik ).
Misalnya : bila terjadi infeksi atau penyakit, menggerakkan mekanisme penyesuaian somatik, terjadi reaksi :
•Pembentukan zat anti kuman, zat anti racun
•Mobilisasi leukosit ke tempat-tempat invasi kuman
•Lebih banyak melepaskan kortisol, adrenalin dan sebagainya
Usaha tubuh untuk mencapai keseimbangan kembali
Berorientasi pada tugas : Bertujuan menghadapi stressor secara sadar, realistik, objektif, rasional
Pembelaan ego
Melindungi individu dari kecemasan
Meringankan penderitaan bila mengalami suatu kegagalan
Menjaga harga diri
Misalnya : seseorang yang menghadapi kegagalan è kemungkinan bereaksi :
• penyesuaian diri berupa serangan (bekerja lebih keras) atau menghadapi secara terang-terangan
• menarik diri dan tidak mau tau lagi (tidak berusaha)
• kompromi atau mengurangi keinginannya lalu memilih jalan tengah
Reaksi tersebut menunjukkan langkah-langkah :
a.Mempelajari dan menentukan persoalan
b.Menyusun alternatif penyelesaian
c.Menentukan tindakan yang mempunyai kemungkinan besar akan berhasil
d.Bertindak
e.Menilai hasil tindakan dan dapat mengambil langkah yang lain bila kurang memuaskan
Mekanisme Pembelaan EGO
Bila digunakan terus menerus akibatnya ego bukannya mendapat perlindungan, melainkan lama kelamaan akan mendapat ancaman/bencana. Oleh karena mekanisme ini Tidak realistik Mengandung banyak unsur penipuan diri sendiri Distorsi realitas pemutarbalikan realitas)
Mekanisme Pembelaan EGO
1.IDENTIFIKASI
Ingin menyamai seorang figur yang diidealkan, dimana salah satu ciri atau segi tertentu dari figure itu ditransfer pada dirinya. Dengan demikian ia merasa harga dirinya bertambah tinggi.
Contoh : Teguh, 15 tahun mengubah model rambutnya menirukan artis idolanya yang ia kagumi.
2. INTROJEKSI
Merupakan bentuk sederhana dari identifikasi, dimana nilai-nilai, norma-norma dari luar diikuti atau ditaati, sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar. Contoh : Rasa benci atau kecewa terhadap kematian orang yang dicintai dialihkan dengan cara menyalahkan diri sendiri.
3. PROJEKSI
Hal ini berlawanan dengan introjeksi, dimana menyalahkan orang lain atas kelalaian dan kesalahan-kesalahan atau kekurangan diri sendiri, keinginan keinginan, impuls-impuls sendiri.
Contoh : Seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayunya
4. REPRESI
Penyingkiran unsur psikik (sesuatu afek, pemikiran, motif, konflik) sehingga menjadi nirsadar dilupakan/tidak dapat diingat lagi). Represi membantu individu mengontrol impuls-impuls berbahaya.Contoh :Suatu pengalaman traumatis menjadi terlupakan
5. REGRESI
Kembali ke tingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang bersifat primitif).
Contoh : Seorang anak yang mulai berkelakuan seperti bayi, ketika seorang adiknya dilahirkan.
Esvi yang berumur 4 tahun mulai mengompol lagi sejak adiknya yang baru lahir dibawa pulang dari rumah sakit
6. REACTION FORMATION
Bertingkah laku berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan, perasaan yang sebenarnya. Mudah dikenal karena sifatnya ekstrim dan sukar diterima.
Misalnya :
Seorang wanita yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
7. UNDOING
Meniadakan pikiran-pikiran, impuls yang tidak baik, seolah-olah menghapus suatu kesalahan.
Misalnya :
Seorang ibu yang menyesal karena telah memukul anaknya akan segera memperlakukannya penuh dengan kasih sayang
8. DISPLACEMENT
Mengalihkan emosi, arti simbolik, fantasi dari sumber yang sebenarnya (benda, orang, keadaan) kepada orang lain, benda atau keadaan lain.
Misalnya :
Seorang pemuda bertengkar dengan pacarnya dan sepulangnya ke rumah marah-marah pada adik-adiknya
9. SUBLIMASI
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Impuls yang berasal dari Id yang sukar disalurkan oleh karena mengganggu individu atau masyarakat, oleh karena itu impuls harus dirubah bentuknya sehingga tidak merugikan individu/masyarakat sekaligus mendapatkan pemuasan
Misalnya :
Impuls agresif disalurkan ke olah raga, usaha-usaha yang bermanfaat
10. ACTING OUT
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginan terhalang.
Misalnya :
Mengatasi problem dengan jalan paling sedikit bertengkar
11. DENIAL
Menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak.
Misalnya :
Seorang gadis yang telah putus dengan pacarnya, menghindarkan diri dari pembicaraan mengenai pacar, perkawinan atau kebahagiaan
12. KOMPENSASI
Menutupi kelemahan dengan menonjolkan kemampuannya atau kelebihannya.
Misalnya :
Saddam yang merasa fisiknya pendek sebagai sesuatu yang negatif, berusaha dalam hal menonjolkan prestasi pendidikannya
13. RASIONALISASI
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional, sehingga tidak menjatuhkan harga dirinya.
Misalnya :
Munawir yang menyalahkan cara mengajar dosennya ketika ditanyakan oleh orang tuanya mengapa nilai semesternya buruk.
14. FIKSASI
Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi atau tingkah laku atau pikiran, dsb) sehingga perkembangan selanjutnya terhambat.
Misalnya :
Seorang gadis yang tetap berbicara kekanak-kanakan atau seseorang yang tidak dapat mandiri dan selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya dan orang lain.
15. SIMBOLISASI
Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang sebenarnya
Misalnya :
Seorang anak remaja selalu mencuci tangan untuk menghilangkan kegelisahannya/kecemasannya. Setelah ditelusuri, ternyata ia pernah melakukan masturbasi sehingga perasaan berdosa/cemas dan merasa kotor
16. DISOSIASI
Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran /identitasnya. Keadaan dimana terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang individu.
Misalnya :
Seorang laki-laki yang dibawa ke ruang emergensi karena mengamuk ternyata tidak mampu menjelaskan kembali kejadian tersebut (ia lupa sama sekali)
17. KONVERSI
Adalah transformasi konflik emosional ke dalam bentuk gejala-gejala jasmani.
Misalnya :
Seorang mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas-tugasnya tiba-tiba merasa sakit sehingga tidak masuk kuliah

TEORI FILOSOFI KEPERAWATAN JEAN WATSON


A. Dasar Pemikiran
1. Filosofi / Keyakinan
Keperawatan menurut Jean Watson adalah
“….Human science of person and human health-illness experiences that are mediated by professional, personal, scientific, esthetic, and ethical human are transaction..”
Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkam pada asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika, humanities, dan kiat/art (Watson, 1985). Sebagai pengetahuan tentang human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti keperawatan, seperti yang dinyatakan oleh Watson (1985) human care is the heart of nursing”. Pandangan tentang keperawatan sebagai science tentang human care adalah komprehensif. Ini termasuk pengembangan pengetahuan sebagai basis dalam area:
1. Pengkajian terhadap kondisi manusia
2. Implikasi dari pengalaman manusia dan responnya terhadap kondisi sehat sakit.
3. Telaah terhadap pengelolaan kondisi-kondisi yang menyertainya
4. Deskripsi dari atribut-atribut caring relationship
5. Studi tentang sistem bagaimana human care harus diwujudkan.

Dalam pandangan keperawatan Jean Watson, manusia diyakini sebagai person as a whole, as a fully functional integrated self.  Jean Watson mendefinisikan sehat sebagai kondisi yang utuh dan selaras antara badan, pikiran, dan jiwa, ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian antara diri yang dipersepsikan dan diri yang diwujudkan. Dari beberapa konsep sehat sakit di atas dapat dikemukakan beberapa hal prinsip, antara lain:
1. Sehat menggambarkan suatu keutuhan kondisi seseorang yang sifatnya multidimensional, yang dapat berfluktuasi tergantung dari interrelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi.
2. Kondisi sehat dapat dicapai, karena adanya kemampuan seseorang  untuk beradaptasi terhadap lingkungan baik internal maupun eksternal.
3. Sehat tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang terhenti pada titik tertentu, tetapi berubah-ubah tergantung pada kapasitasnya untuk berfungsi pada lingkungan yang dinamis.

Fokus keperawatan ditujukan pada promosi kesehatan dan penyembuhan penyakit dan dibangun dari sepuluh factor carativ, yang meliputi :
a. Pembentukan sistem humanistic dan altruistic.
Pembentukan sistem nilai humanistic dan altruistic dalam diri seseorang dapat dinilai pada usia dini. Dimana nilai-nilai ini didapatkan dari orang tua. Sistem nilai humanistic altruiistic ditingkatkan melalui pengalaman hidup seseorang, proses pembelajar dan paparan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
b. Penanaman (melalui pendidikan) faith-Hope
Merupakan hal yang sangat penting dalam caratif dan curatif. Perawat perlu selalu memiliki positif thingking sehingga dapat menularkan kepada klien yang akan membantu meningkatkan kesembuhan dan kesejahteraan klien.
c. Pengembangan sensisitifitas atau kepekaan diri kepada orang lain,
karena pikiran dan emosi seseorang adalah jendela jiwa.
d. Pengembangan hubungan yang bersifat membantu dan saling percaya (a helping trust relationship)
Sebuah hubungan saling percaya digambarkan sebagai hubungan yang memfasilitasi untuk penerimaan perasaan positif dan negatif yang termasuk dalam hal ini, kejujuran, empati, kehangatan dan komunikasi efektif.
e. Meningkatkan dan saling menerima pengungkapan ekspresi perasaan, baik ekpresi perasaan positif maupun negatif.
f. Menggunakan metode ilmiah dan menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan,
g. Meningkatkan dan memfasilitasi proses belajar mengajar yang bersifat interpersonal.
h. Menciptakan lingkungan yang mendukung, melindungi dan meningkatkan atau memperbaiki keadaan mental, sosial, kultural dan lingkungan spiritual.
i. Membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan antusias (kebutuhan-kebutuhan survival, fungsional, integratif dan grup)
j. Mengembangkan kekuatan faktor excistensial phenomenologic
Dalam praktek keperawatan “caring” ditujukan untuk perawatan kesehatan yang holistik dalam meningkatkan kontrol, pengetahuan dan promosi kesehatan.
2. Asumsi dasar
Asumsi dasar teori watson terletak pada 7 asumsi dasar yang menjadi kerangka kerja dalam pengembangan teori; yaitu:
a. Caring dapat dilakukan dipraktekkan secara interpersonal
b. Caring meliputi faktor-faktor caratif yang dihasilkan dari kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
c. Caring yang efektif akan menigkatkan status kesehatan dan perkembangan individu dan keluarga.
d. Respon caring adalah menerima seseorang tidak hanya sebagai seseorang berdasarkan saat ini tetapi seperti apa dia mungkin akan menjadi dimasa depannya.
e. Caring environment, menyediakan perkembangan potensi dan memberikan keluasan memilih kegiatan yang terbaik bagi diri seseorang dalam waktu yang telah ditentukan.
f. Caring bersifat healthogenic” daripada sekedar curing. Praktek caring mengitegrasikan pengetahuan biopisikal dan perilaku manusia untuk meningkatkan kesehatan. Dan untuk membantu pasien yang sakit, dimana caring melengkapi curing.
g. Caring merupakan inti dari keperawatan.

B. Komponen Model
Nilai-nilai yang mendasari konsep caring menurut Jean Watson meliputi:
1. Konsep tentang manusia
Manusia merupakan suatu fungsi yang utuh dari diri yang terintegrasi (ingin dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan, dipahami dan dibantu)
Manusia pada dasarnya ingin merasa dimiliki oleh lingkungan sekitarnya merasa dimiliki dan merasa menjadi bagian dari kelompok atau masyarakat, dan merasa dicintai dan merasa mencintai.
2. Konsep tentang kesehatan
Kesehatan merupakan kuutuhan dan keharmonisan pikiran fungsi fisik dan fungsi sosial. Menekankan pada fungsi pemeliharaan dan adaptasi untuk meningkatkan fungsi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kesehatan merupakan keadaan terbebas dari keadaan penyakit, dan Jean Watson menekankan pada usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut.
3. Konsep tentang lingkungan
Berdasarkan teori Jean Watson, caring dan nursing merupakan konstanta dalam setiap keadaan di masyarakat. Perilaku caring tidak diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi hal tersebut diwariskan dengan pengaruh budaya sebagai strategi untuk melakukan mekanisme koping terhadap lingkungan tertentu.

4. Konsep tentang keperawatan
Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan caring ditujukan untuk klien baik dalam keadaan sakit maupun sehat.

PELUANG KERJA DAN BISNIS PERAWAT DENGAN TELENURSING


Dewasa ini dunia telah menjadi terus meningkatkan kepercayaan pada berbagai teknologi untuk memenuhi kebutuhan informasi. Perkembangan teknologi informasi juga merambah dunia kesehatan. Kebutuhan layanan kesehatan juga termasuk keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat modern saat ini. Masyarakat menjadi semakin familier dengan dunia cyber atau media internet untuk mendapatkan informasi kesehatan. Selanjutnya keinginan berkembang menjadi harapan akan layanan kesehatan melalui media informasi canggih seperti teleconference, videoconference, call center yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus meninggalkan rumah.

Pertumbuhan Pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2010 ada sekitar 54 juta pengguna internet di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis besarnya dan meruapakn sebuah peluang bagi perawat untuk meningkatkan cakupan pelayanan keperawatan keseluruh wilayah Indonesia dengan efisiensi yang tinggi. teknologi informasi internet tersebut, istilah telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan. (Martono N. www.inna.ppni.org .2006).

Telenursing sudah diterapkan di berbagai negara seperti di Amerika, Yunani, Israel, Jepang, Italia, Denmark, Belanda, Norwegia, Jordania, India dan bahkan Malaysia. Organisasi perawat Amerika pada tahun 1999 telah merekomendasikan pengembangan analisa komprehensif penggunaan telenursing. Di Amerika Serikat, 36% peningkatan kebutuhan perawat home care dalam 7 tahun mendatang dapat ditanggulangi dengan telenursing dan di negara lainpun dilaporkan telah menggunakan pelayanan telekomunikasi di rumah untuk perawatan home care dengan telenursing.

Layanan kesehatan khususnya keperawatan jarak jauh dengan menggunakan media teknologi informatika (internet) memberikan kemudahan bagi masyarakat. Masyarakat atau pasien tidak perlu datang ke rumah sakit, dokter atau perawat untuk mendapatkan layanan kesehatan. Waktu yang diperlukan untuk layanan kesehatan juga semakin pendek. Pasien dapat hanya dirumah dan melakukan kontak via internet atau melalui video converence untuk mendapatkan informasi kesehatan, perawatan dan bahkan sampai pengobatan. Banyak manfaat lain bila kita menggunakan teknologi dalam layanan keperawatan jarak jauh (Telenursing )diantaranya:

1. Efektif dan efisien dalam segi biaya keperawatan. 
2. Dengan sumber daya minimal dapat meninggkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis 
3. Dapat mengurangi jumlah kunjungan dan lama hari rawat di rumah sakit 

4. Dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan ( model distance learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning.

Selain itu telekomonuikasi elektronikal merupakan akses terbaik untuk kesempatan pendidikan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat.

Praktik keperawatan jarak jauh (telenursing) di Indonesia belum berkembang seperti di Negara-negara maju seperti di Amerika atau Australia. Penggunaan telenursing di Indonesia masih terbatas pada area pendidikan seperti yang dikembangkan di UGM melalui program e-learning atau model e-lisa yang terintegrasi di semua fakultas UGM dan beberapa universitas swasta lainnya.

Baru-baru ini di Indonesia berdiri organisasi yang bergerak dalam layanan asuhan keperawatan di rumah ( Home Care.) Home care di Indonesia belum menggunakan system Telenursing, akan tetapi masih bersifat home visit, artinya perawat mendatangi rumah-rumah pasien untuk dilakukan perawatan secara langsung tidak menggunakan jasa teknologi canggih. Media yang digunakan masih sebatas penggunaan media telepon sebagai call center. Itupun masih terbatas pada kota-kota besar, kota – kota kabupaten belum tersentuh layanan home care.

Asuhan keperawatan model ini ( home care ) sebenarnya bisa dikatakan sebagai layanan asuhan keperawatan jarak jauh ( telenursing) walaupun sangat sederhana. Setidaknya organisai profesi dapat segera membangun konsep pengembangan layanan perawatan jarak jauh dengan mengembangkan Home Care yang sudah mulai berjalan dengan meningkatkan cakupan layanan ke daerah-daerah dan pada akhirnya kita benar-benar bisa mengembangkan layanan melalui penggunaan fasilitas teknologi yang lebih canggih.

Yang perlu disiapkan adalah bagaimana menjawab pertanyaan tentang legalitas daripada layanan kesehatan ( keperawatan jarak jauh) sebagai berikut : Apakah menurut praktisi perawatan dan profesi perawatan, perawatan yang disajikan secara elektronis jarak jauh merupakan praktek ilmu perawatan. Apakah asuhan perawatan dengan tanpa sentuhan tangan perawat dan hanya menggunakan komunikasi telekonference sudah dapat dikatakan sebagai asuhan keperawatan yang legal?

Sebenarnya pertanyaan tersebut sudah terjawab bila kita mendasari dengan cara kerja Telenursing, dimana perawat menggunakan pengetahuan, ketrampilan, pertimbangan dan pemikiran kritis yang yang tidak bisa dipisahkan di (dalam) ilmu Pendidikan perawatan. Aktivitas tersebut sudah dapat diberikan Lisensi melakukan asuhan keperawatan. Definisi legal ilmu perawatan hampir selalu meliputi 1) Penggunaan ilmu perawatan pendidikan, 2) Pemikiran kritis, dan 3) Pengambilan keputusan. Jadi jelaslah bahwa Telenursing merupakan peluang kerja profesi keperawatan yang legal. Tantunya dukungan organisai profesi dalam perijinan sangat dibutuhkan.

Tuesday, May 29, 2012

PROSPEK LULUSAN PERAWAT (DIPLOMA III KEPERAWATAN & NERS) DI INDONESIA


Profesi perawat di Indonesia pada 10 tahun terakhir ini menjadi profesi yang menarik untuk disimak.
Fenomena pertama adalah semakin terbukanya kesempatan dan tawaran bekerja di Luar negeri (negara Timur Tengah dan Eropa).
Fenomena Kedua adalah semakin meningkatnya animo masyarakat menyekolahkan anaknya di Akademi keperawatan (AKPER).
Dan fenomena yang ketiga adalah semakin menjamurnya Pendidikan Keperawatan (setingkat Diploma III) di Indonesia.
Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana prospek lulusannya, apakah mereka memang merupakan lulusan yang berkualitas dan siap bersaing untuk bekerja di Luar negeri. Hal ini didasarkan sangat sedikit sekali kesempatan untuk menjadi PNS dan keterbatasan Institusi untuk menerima para lulusan Perawat tersebut. Memang kalau kita membahas siapa yang salah, tidak akan pernah ada habisnya. Hal utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana memberikan solusi terbaik, agar para lulusan perawat tersebut mempunyai prospek yang jelas di hari esok.
Masyarakat terus-menerus berkembang atau mengalami perubahan. Dengan terjadinya perubahan atau pergeseran dari berbagai faktor yang mempengaruhi keperawatan, maka akan terjadi perubahan atau pergeseran dalam keperawatan, baik perubahan dalam pelayanan / asuhan keperawatan, perkembangan IPTEKKEP, maupun perubahan dalam masyarakat keperawatan, baik sebagai masyarakat ilmuwan maupun sebagai masyarakat profesional serta prospek perawat di masa depan dalam mengembangkan karier dan memperoleh kesempatan untuk bekerja.
Prospek perawat profesional di masa depan sangat ditentukan oleh banyak faktor, mulai faktor keadaan kestabilan sosial-ekonomi-politik di Indonesia dan faktor internal pada diri perawat sendiri.
Perubahan ekonomi membawa dampak terhadap pengurangan berbagai anggaran untuk pelayanan kesehatan, sehingga berdampak terhadap orientasi pelayanan kesehatan / keperawatan dari lembaga sosial ke orientasi “bisnis”. Pelayanan kesehatan dihadapkan pada suatu dilema, di satu sisi harus mengurangi beberapa alokasi anggaran di sisi yang lain mutu asuhan kesehatan / keperawatan harus ditingkatkan. Keadaan ini ditunjang dengan keadaan politik yang semakin tidak menentu. Para elit politik, baik eksekutif maupun legislatif, lebih berperan sebagai seorang penguasa yang selalu membenarkan semua tindakannya untuk kepentingan golongan / kelompok tertentu, sedikit sekali perduli dengan masalah yang dihadapi anak bangsa, khususnya masalah kesehatan. Sedangkan perubahan kependudukan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia dan bertambahnya umur harapan hidup, maka akan membawa dampak terhadap lingkup dari praktek keperawatan. Penyakit HIV-AIDS akan menjadi maslah utama kesehatan dan keperawatan di masa depan.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan / keperawatan. Era kesejagatan identik dengan era komputerisasi, sehingga perawat dituntut untuk menguasai teknologi komputer didalam melaksanakan MIS (Management Information System) baik di tatanan pelayanan maupun Pendidikan Keperawatan.
Perubahan yang diharapkan terjadi pada diri perawat di masa depan adalah sebagai sosok perawat profesional, yang dapat dilihat dari perannya. Peran perawat yang utama di masa depan adalah mempertahankan perawat sebagai profesi dengan menjaga citra perawat di hati masyarakat dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesehatan baik tingkat kabupaten, provinsi dan nasional dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan pada umumnya.
Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan peran aktif secara profesional dengan mmperhatikan setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.
Potret perawat masa depan adalah perawat yang mempunyai 6 E (Environmental savvy; Excellence; Eclecticism; Enthusiasm; effort; Endurance). Perawat harus tanggap dan dinamis dalam perubahan yang sudah dan akan terus terjadi di masa depan.
Ciri khas lain perawat masa depan adalah selalu melaksanakan perannya yang terbaik dan berpandangan luas didalam menyelesaikan permasalahan. Diharapkan di masa depan perawat mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi ditunjang dengan berbagai aktifitas / kegiatan yang dilaksanakan. Ciri khas yang terpenting, perawat harus mempunyai suatu daya tahan yang tinggi dan tidak pantang menyerah dalam meraih tujuan profesionalisme.


APA DAMPAK PERUBAHAN?
Dampak Perubahan-perubahan yang terjadi di era global akan membawa dampak yang positif dan juga negatif.
Perubahan yang berdampak positif yang akan terjadi meliputi:
  1. makin meningkatnya mutu pelayanan kesehatan / keperawatan yang diselenggarakan
  2. makin sesuainya jenis dan keahlian tenaga kesehatan / keperawatan yang tersedia sesua dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat
  3. bertambahnya kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan
Sedangkan dampak negatif yang perlu diperhatikan meliputi:
  1. terjadinya persaingan yang makin ketat antar tenaga kesehatan / keperawatan bangsa sendiri dan asing
  2. berubahnya filosofi pelayanan kesehatan/keperawatan, yang semula berorientasi sosial menjadi sepenuhnya bersifat komersial
  3. makin sulit mewujudkan pemerataan pelayanan kesehatan/keperawatan. Terjadinya ketimpangan pemerataan pelayanan ini erat kaitannya dengan tenaga ahli / tenaga asing untuk berkiprah di daerah-daerah terpencil
  4. tidak sesuainya pelayanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
BAGAIMANA PROSPEK PENEMPATAN PERAWAT DI MASA DEPAN?
Perubahan sosial ekonomi dan politik, kependudukan, dan IPTEK akan berdampak terhadap perubahan penempatan perawat, yang meliputi bentuk praktik keperawatan, pendidikan keperawatan dan perkembangan IPTEK keperawatan. Perawat pada abad mendatang akan menghadapi suatu kesempatan dan tantangan yang sangat luas sekaligus suatu ancaman (Chitty, 1997: 470 )
Tantangan terhadap praktek keperawatan  harus dianggap sebagai tantangan, karena adanya (1) pengurangan anggaran dalam system pelayanan kesehatan; (2) Otonomi dan akontabilitas; (3) Perkembangan Teknologi; (4) Perbedaan batas kewenangan praktek.
1. Tatanan Pelayanan Kesehatan
Tempat praktek keperawatan di masa depan meliputi pada tatanan klinik (RS); komunitas; dan praktek mandiri di rumah / berkelompok (sesuai SK MENKES R.I 1239/2001 tentang registrasi dan praktik keperawatan).
(1) Pengurangan anggaran. Perawat Indonesia saat ini dihadapkan pada suatu delima, disatu sisi dia harus terus mengupayakan peningkatan kualitas layanan kesehatan di lain pihak pemerintah memotong alokasi anggaran untuk pelayanan keperawatan. Keadaan ini dipicu dengan menjadikan RS sakit swadana, dimana juga berdampak juga terhadap kinerja perawat. Dalam melaksanakan tugasnya sering perawat jarang mengadakan hubungan interpersonal yang baik karena mereka harus melayani pasien laiinya dan dikejar oleh waktu. Keadaan tersebut sebagai suatu tantangan bagi perawat dalam berpegang terus dalam nilai-nilai moral dan etik..
(2) Otonomi dan Akontabilitas. Dengan melibatkan perawat dalam pengambilan suatu keputusn di Pemerintahan, merupakan hal yang sangat positif dalam meningkatkan otonomi dan akontabilitas perawat Indonesia. Peran serta tersbut perlu ditingkatkan terus dan dipertahankan. Kemandirian perawat dalam melaksanakan perannya sebagai suatu tantangan. Semakin meningkatnya otonomi perawat semakin tingginya tuntutan kemampuan yang yang harus dipersiapkan.
(3) Teknologi. Penguasaan dan keterlibatan dalam Perkembangan IPTEK dalam praktek keperawatan bagi perawat Indonesia merupakan suatu keharusan. Penguasaan IPTEK juga akan berperan dalam menapis dan menseleksi IPTEK yang sesuai dengan kebutuhan dan social budaya masyarakat Indonesia yang akan diadopsi. Apabila kita tetap tidak mampu menerapkan teknologi yang ada, maka kita akan menjadi orang yang tertinggal dan ditinggalkan oleh konsumennya.
(3) Perbedaan Batas Kewenangan Praktek. Belum jelasnya batas kewenangan praktek keperawatan pada setiap jenjang pendidikan, sebagai suatu tantangan bagi profesi keperawatan. Berdasarkan hasil kajian penulis, hal tersebut terjadi karena belum dipahaminya atau dikembangkannya “body of knowledge” keperawatan. Selama menempuh pendidikan perawat mendapatkan ilmu dan pola pikir yang hampir sama dengan profesi kedokteran. Sehingga bukan sesuatu yang aneh setelah praktek melakukan hal yang sama seperti apa yang didapatkannya di sekolah. Perawat sering dihadapkan pada suatu dilema karena tidak jelasnya batas kewenangan dalam pelasanaan tindakan keperawatan. Keadaan ini jelas akan berdampak terhadap peran perawat dalam peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
2. Pendidikan Keperawatan
Dalam menunjang perkembangan dan proses profesionalisasi keperawatan Indonesia, maka diperlukan dukungan sumber daya manusia (perawat) yang berkualitas. Oleh karena itu institusi pendidikan akan memberikan kesempatan kepada para lulusannya, khususnya yang mempunyai kualifikasi baik, untuk bekerja sebagai staf pengajar. Bagi para lulusan yang masih mampu melanjutkan penddikan, dapat meneruskan ke Starta 1 (di Program Studi Ilmu Keperawatan) sampai dengan tingkat doctoral.
3. Bekerja Di Luar Negeri Sebagai Tenaga Profesional
Sudah sejak 10 tahun yang lalu, kesempatan bagi para perawat untuk bekerja di Luar Negeri sebagau tenaga profesional dibuka, akan tetapi sampai dengan saat ini, jumlah tenaga perawat yang bekerja sangat sedikit. Sedikitnya jumlah perawat yang dapat bekerja di Luar negeri lebih disebabkan faktor (1) kurangnya kemampuan perawat dalam berbahasa Inggris, sehingga selalu gagal setiap mengikuti seleksi; dan (2) kurangnya motivasi perawat untuk bekerja di luar negeri, karena faktor tidak ingin jauh dengan keluarga. Saya menyebutnya perawat seperti ini menganut paradigma “mangan nggak makan yang penting kumpul” dengan menganut madzab “takut sengsara hidup di negeri orang”. Kesempatan ini kalau dibiarkan akan menjadikan suatu ancaman dimana akan membawa dampak terhadap kecilnya peluang perawat Indonesia untuk bekerja di Luar Negeri.
4. Lain – Lain: Swasta Dan Atau Jalur Non Liner Lainnya (Bumn, Pabrik, Klinik Dll) Dan Legislatif / Eksekutif (Pemerintahan)
Dari beberapa data yang ada, profesi perawat masih sangat diminati untuk bekerja sebagai karyawan di swasta maupun BUMN (Pabrik Obat) baik sebagai tenaga praktisi di Klinik maupun sebagai managerial. Di masa depan diharapkan perawat juga mampu berkiprah dalam kancah pemerintahan dan atau legislatif. Hal ini akan sangat mendukung profesi perawat ikut berpartisipasi dalam menentukan suatu kebijakan-kebijakan pembangunan, yang tentunya akan berdampak positif bagi perawat dalam memperoleh kesempatan.

NURSING as a HUMAN SCIENCE and HUMAN CARE Telaah filosofis terhadap keperawatan sebagai profesi











Kata kunci : keperawatan,profesi,paradigma,holism,humanism,caring
PENDAHULUAN
Keperawatan saat ini tengah mengalami masa transisi panjang yang tampaknya belum akan segera berakhir. Keperawatan yang awalnya merupakan vokasi dan sangat didasari olehmother instinct – naluri keibuan, mengalami perubahan / pergeseran yang sangat mendasar atas konsep dan proses, menuju keperawatan sebagai profesi. Perubahan ini terjadi karena tuntutan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan secara umum, perkembangan IPTEK dan perkembangan profesi keperawatan sendiri.
Keperawatan sebagai profesi harus didasari konsep keilmuan yang jelas, yang menuntun untuk berpikir kritis-logis-analitis; bertindak secara rasional – etis; serta kematangan untuk bersikap tanggap terhadap kebutuhan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan. Keperawatan sebagai direct human care harus dapat menjawab mengapa seseorang membutuhkan dan dapat dibantu melalui keperawatan; domain keperawatan dan keterbatasan lingkup pengetahuan serta lingkup garapan praktek keperawatan; basis konsep dari teori dan struktur substantif setiap konsep menyiapkan substansi dari ilmu keperawatan sehingga dapat menjadi acuan untuk melihat wujud konkrit permasalahan pada situasi kehidupan manusia dimana perawat/keperawatan diperlukan keberadaannya. 
Secara mendasar, keperawatan sebagai profesi dapat terwujud bila para profesionalnya dalam lingkup karyanya senantiasa berpikir analitis,kritis dan logis terhadap fenomena yang dihadapinya; bertindak secara rasional-etis; serta bersikap tanggap/peka terhadap kebutuhan klien sebagai pengguna jasanya. Akan tetapi pergeseran-pergeseran ini membawa konsekwensi dan segudang pertanyaan untuk dijawab : Apakah benar keperawatan itu profesi, kalau ya pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa fokus telaahannya, , lingkup garapan dan basis intervensinya, pada sirkumstansis seperti apa intervensi keperawatan dibutuhkan, atau secara singkat how nurses facilitate the health of human beings? Apakah keperawatan itu ilmu? Kalau demikian apa objek formilnya; objek materiilnya; konsep-konsep apa yang mendasari building block nya; melalui proses metodologi seperti apa ilmu keperawatan tsb ditemukan dan dibangun. 
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb diperlukan telaah terhadap esensi keperawatan didasarkan pada berbagai konsep yang melandasi perkembangan berbagai teori-teori keperawatan. Berbagai teori keperawatan mengemuka sejak Florence Nightingale (notes on nursing), Virginia Henderson (the activities of living) , Callista Roy (Adaptation Model), Dorothea Orem (Self-care model), M.Leininger (transcultural nursing), Jean Watson (human science and human care) dan masih banyak lagi.

Tulisan ini mencoba menelaah keperawatan dengan teori Jean Watson sebagai pegangan utama, karena alasan : 1) paradigma keperawatan menekankan manusia sebagai fokus sentral, 2) dari teori-teori keperawatan yang mengemuka, ada konsensus umum bahwa disiplin keperawatan menekankan a holistic and humanistic viewpoint with a fundamental ethic of caring. 
ESENSI PROFESI 
Profesi, secara historis dikaitkan dengan pendidikan tinggi atau institusi pembelajaran dan membawa implikasi pada tingkat kemampuan tertentu yang dicapai melalui proses studi dan riset. Lebih lanjut, ada kesepakatan umum bahwa profesionalisme berkaitan langsung dengan keahlian, otonomi dan pelayanan. Seorang professional bertindak secara konsiensius, paham dan mengerti apa yang dilakukannya dan bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain (Perry & Potter,2005:7). Profesi mempunyai katarkeristik utama : 
  • Profesi mensyaratkan pendidikan yang memadai untuk meletakkan dasar-dasar professional bagi para praktisinya 
  • Profesi mempunyai pengetahuan , konsep dan teori sebagai landasan untuk mengembangkan ketrampilan , kemampuan dan norma-norma 
  • Profesi mempunyai bidang garap dan layanan yang spesifik, serta standar sebagai acuan • Anggota profesi mempunyai otonomi dan kewenangan untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal yang menjadi lingkup garap keprofesian 
  • Profesi mempunyai kode etik untuk menuntun anggota profesi dalam menjalankan aktifitas profesionalnya, serta melindungi masyarakat konsumennya. Karakteristik tersebut akan menjadi penciri bagi para profesional dalam menjalankan peran dan fungsinya. Peran dan fungsi yang diemban para profesional sejalan dengan domain profesionalnya, dalam hal ini menyangkut tiga hal pokok yaitu fokus telaahan , lingkup garapan dan basis intervensi. Ketiga domain profesi ini menjadi landasan bagi para profesional untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, seperti diketahui bahwa profesi ada karena keberadaannya dibutuhkan masyarakat sehingga terjadi hubungan timbal balik antara masyarakat profesi dan masyarakat konsumen,hubungan saling percaya antara keduanya dibangun dan dibina sehingga melalui hubungan ini tumbuh pengakuan masayarakat terhadap profesi dan pengakuan tersebut melekatkan status dan privelege pada masyarakat profesi. Di pihak lain , pengakuan – status dan privelege ini membangun komitmen para profesional untuk ”menginvestasikan” diri dan hidupnya bagi karyanya melayani masyarakat, dengan demikian pada akhirnya penciri profesi akan melekat pada gaya hidup,perilaku dan personality; dan kehidupan profesional dapat berujung pada income,prestige dan power. Dalam konteks ini ketiga hal tersebut dapat bermakna bahwa melalui profesinya seseorang dapat hidup layak, bangga pada profesinya dan melalui aktifitas profesinya dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. 
MAKNA dan PARADIGMA KEPERAWATAN
Paradigma, dalam Chaska (1990:167,) dikemukakan sebagai “ a world view or general perspective for viewing some complexity of the real world that becomes embedded in the orientation of those who subscribe to the paradigm” atau apa yang dikemukakan Kelly 2003:194 sebagai Ways of looking at (Conceptualizing a Discipline (ex.Nursing) in a clear, explicit term that can be communicated to others” Apabila pengertian paradigma tersebut dikaitkan dengan keperawatan, maka dapat dikatakan sebagai keyakinan dan cara pandang terhadap berbagai konsep yang mendasari the real world of nursing , sehingga dengan memahami nilai-nilai yang menjadi dasar keyakinan dan cara pandang tersebut akan menuntun orientasi konsep dan aplikasi praktisnya.
Para penggagas teori keperawatan menyepakati bahwa ada empat konsep yang menjadi elemen utama paradigma keperawatan yaitu : manusia, lingkungan, sehat/kesehatan dan keperawatan (Chaska,2003;Perry & Potter,2005) dan manusia merupakan fokus sentral dari paradigma keperawatan (George,1980). Keempat elemen dari paradigma ini diwujud-nyatakan dengan dijiwai oleh prinsip holism, humanism dan caring.
Keperawatan.
Esensi keperawatan, seperti dirumuskan oleh American Nurses Association (ANA,1980) adalah Diagnosis and treatment of human responses to actual and potential health problems atau dapat diinterpretasikan sebagai diagnosis dan perlakuan pada respon manusia terhadap masalah klesehatan baik yang sifatnya aktual maupun potensial. Dari rumusan tersebut ada beberapa hal pokok yang membutuhkan penjabaran makna lebih lanjut, yaitu : diagnosis dan perlakuan, respon manusia dan masalah kesehatan.
Diagnosis adalah careful,critical study of something to determine its nature (NANDA,2001). Diagnosis merupakan kesimpulan terhadap suatu keadaan yang dilakukan melalui proses pengkajian dalam hal ini terdiri dari tahapan-tahapan pengumpulan data, analisis dan kesimpulan. Diagnosis keperawatan (ICN,1987) adalah label given by a nurse to the decision about a phenomenon which is the focus of nursing intervention atau dapat diinterpretasikan sebagai rumusan yang dibuat berdasarkan keputusan terhadap fenomena yang merupakan fokus dari intervensi/perlakuan keperawatan.
Jadi diagnosis keperawatan disini berbeda dari diagnosis medik ;diagnosis keperawatan tidak menentukan jenis penyakit yang diderita oleh seseorang tetapi menentukan fenomena apa yang dialami oleh seseorang, hal ini antara lain dapat berkaitan dengan penyakit atau keadaan lain dari rentang sehat-sakit. Fenomena atau fokus telaahan ini merupakan aspect of health of relevance to nursing practice. Potter & Perry (2005:58) mengemukakan fenomena sebagai aspects of reality that can be consciously sensed or experienced. Dari dua pendapat tadi dapat dikemukakan bahwa fenomena merupakan aspek dari realitas yang dapat dirasakan atau dialami. Dalam suatu disiplin, fenomena mencerminkan domain atau territory. Domain dikatakan sebagai …the perspective and territory of the discipline and contains the subject , central concept, values and beliefs, phenomena of interest and the central problems of the discipline. Secara spesifik ini menyangkut tentang human responses to health and illness either potential or actual ……these human responses range broadly from health restoring reactions to an individual episode of illness to the development of policy in promoting the longterm health of a population ….. Fenomena dalam hal ini respon manusia terhadap masalah kesehatan atau rentang kondisi sehat-sakit, secara individual client dapat berupa respon terhadap penyakit misalnya kanker leher rahim; maka proses mendiagnosis pada keperawatan menekankan pada apa/bagaimana respon klien secara utuh terhadap kondisi tersebut. Melalui aktifitas pengkajian keperawatan (nursing assessment) ditelaah bagaimana respon fisiknya : apakah menimbulkan nyeri, bagaimana intensitas dan kwalitas nyerinya, seperti apa polanya, apakah nyeri ini menyertai terganggunya pola aktifitas atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang lain? Yang berikutnya adalah kajian terhadap respon psiko-sosialnya : apakah yang bersangkutan tahu apa yang dideritanya, apa makna kanker ini baginya, apakah keberadaan kanker leher rahim ini menyebabkan fungsi peran nya (role function) terganggu, dalam kapasitasnya sebagai apa – ibu,istri? Bagaimana respon emosionalnya terhadap keberadaan kanker leher rahim ini, atau berada pada tahapan manakah : denial (penolakan)- anger (marah)- bargaining (tawar menawar)- depression (kesedihan yang mendalam)- ataukah sudah pada tahap acceptance (menerima). Kajian secara utuh respon bio-psiko-sosio-spiritual harus dilakukan, sejalan denagn pandangan dasar keperawatan terhadap manusia yang unik dan utuh, dihadapkan pada kanker leher rahim yang sama responnya berbeda-beda. Untuk menentukan kebutuhan dasar apa yang tidak terpenuhi (lingkup garapan keperawatan/ domain profesi) dan bagaimana potensi yang bersangkutan untuk mengatasinya.
Kebutuhan dasar manusia ini (basic human needs) ini meliputi antara lain kebutuhan udara (oksigen); nutrisi; cairan dan elektrolit; eliminasi; rasa nyaman; rasa aman (safety and security); interaksi; hygiene personal; mobilitas fisik. Kesimpulan terhadap kondisi terpenuhi tidaknya kebutuhan dasar manusia (KDM) inilah yang disebut dengan diagnosis keperawatan.
Diagnosis keperawatan menjadi basis intervensi atau bentuk perlakuan dan bantuan keperawatan yang harus dilakukan perawat, terhadap kliennya, apakah secara mandiri ataukah secara kolaboratif tergantung dari esensi permasalahan dan kompleksitasnya. Rumusan diagnosis keperawatan dapat meliputi rangkaian pernayataan tentang problem-etiology-symptom (PES); problem-etiology (PE); atau problem –symptom (PS). Sangat tergantung pada rumusan diagnosis keperawatan, perlakuan keperawatan (nursing intervention) dapat berupa upaya promotif,preventif,caratif (dari care) dan restoratif. Ini seperti pula diuraikan oleh ICN (International Council of Nursing), nursing as an integral part of health care system encompasses the promotion of health,prevention of illness, and the care of physically ill,mentally ill and disable people of all ages, in all health care and other community settings …. Bantuan keperawatan (nursing intervention) ini diberikan apabila seseorang berada pada kondisi self-care deficits (Orem,1980) yaitu apabila self care demand melampaui self care ability atau seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia (KDM)nya secara mandiri baik karena tidak adanya kemampuan, kemauan dan atau pengetahuan… the unique function of the nurse is to assist the individual, sick or well (or to a peaceful death) in the performance of those activities in such a way that he/she can perform unaided if he/she has the necessary strength,wll or knowledge (V.Henderson, 1967).
Dengan menggunakan pandangan dasar terhadap tiga konsep yang lain dalam paradigma keperawatan, maka intervensi keperawatan sebagai bentuk pelayanan professional memperhatikan nilai-nilai harkat dan martabat manusiawi (humanism), perlakuan yang utuh/ tidak terfragmentasi (holism/wholeness) dan menekankan caring sebagai jiwa dari keperawatan (the heart of nursing).

MANUSIA sebagai FOKUS SENTRAL
Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkan pada asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetia, humanities dan kiat/art (Watson,1985). Sebagai pengetahuan tentang human care fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti keperawatan, seperti dinyatakan oleh Watson (1985) human care is the heart of nursing atau Leininger (1984) yang menekankan caring is the central and unifying domain for the body of knowledge and practices of nursing.
Pandangan tentang keperawatan sebagai sains tentang human care adalah komprehensif. Ini termasuk pengembangan pengetahuan sebagai basis dalam area-area :
Pengkajian terhadap kondisi manusia
Eksplikasi dari pengalaman manusia dengan, dan responnya terhadap berbagai kondisi sehat-sakit
Telaah terhadap pengelolaan kondisi-kondisi yang menyertainya
Deskripsi dari atribut-atribut caring relationship
Studi tentang sistem untuk bagaimana human care mesti diwujudkanDalam eksplikasi sains tentang human care pencarian harus termasuk beragam metoda untuk memperoleh pemahaman utuh dari human phenomena. Pencarian ini harus memfasilitasi integrasi pengetahuan dari biomedical,perilaku,sosiokultural, seni dan humaniora untuk menemukan pengetahuan keperawatan baru. Melalui strategi integrasi dan analisis, dunia objektifitas dapat dihubungkan dengan dunia subjektif dari pengalaman manusia untuk mencapai linkage ini. Perspektif tentang human science memberi kesempatan bagi pemikir/peneliti keperawatan untuk melakukan telaah terhadap keilmuan keperawatan dan arahnya, guna meletakkan dasar-dasar subject matter serta tanggung jawab ilmiah dan sosialnya. Melalui perspektif ini, kajian terhadap makna,nilai etika tentang manusia, kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan.
Dalam konteks ini, pemahaman tentang human science berbasis pada :
Filosofi tentang kebebasan,pilihan dan tanggung jawab manusia
Biologi dan psikologi tentang keutuhan manusiawi (holism)
Epistemologi bukan hanya secara empiris tetapi juga pengembangan estetis,nilai-nilai etis,intuisi dan proses eksplorasi dan penemuan
Konteks hubungan,proses interaksi antar manusiaMelalui telaah terhadap berbagai aspek tersebut, keperawatan secara kritis harus mempertanyakan apakah arah pengembangan keilmuan dan profesi keperawatan dengan pendekatan medical science tepat ? Pendekatan ini lebih menekankan pada penggunaan konsep, pandangan dan tehnik-tehnik dari ilmu alam dan kedokteran yang diaplikasikan pada keperawatan. Dengan pendekatan ini, keperawatan baik secara keilmuan ataupun profesi akan terjebak pada pola pemikiran dan tindakan yang mudah terfragmentasi pada struktur dan fungsi organ, penyakit dan tehnik-proseduril tertentu. Ini tidak sejalan dengan prinsip dan pandangan keperawatan tentang holism,humanism and caring.
Keperawatan sebagai human science mengintegrasikan keilmuan dengan nilai-nilai keindahan, seni/kiat , aspek etis dan estetis dari proses caring antar manusia. Keperawatan dapat berkembang dengan fondasi filosofis yang lebih bermakna berbasis pada nilai-nilai manusiawi. Melalui ini harus dipilih metoda yang memungkinkan untuk melakukan kajian terhadap makna diri bukan hanya secara objektif tetapi juga subjektif dari diri perawat sendiri maupun orang lain. Dalam konteks ini, kajian keperawatan lebih memfokuskan pada manusia dengan masalah dan pengalaman hidupnya (i.e.health and illness) dari pada sekedar perilaku,tehnik dan proseduril yang sering tidak manusiawi. Dengan demikian, pola ini akan memperluas pemikiran dan memungkinkan untuk mengembangkan gambaran baru tentang makna sebagai manusia, perawat, pengalaman sakit, pengalaman dirawat/disembuhkan, memberi dan menerima human care
Manusia.
Dalam pandangan keperawatan manusia diyakini sebagai person as a whole, as a fully functional integrated self. Dalam konsep holism ini, manusia dilihat sebagai sosok yang utuh, …..the human is viewed as greater than, and different from, the sum of his or her parts …. (Watson,1985:14) yang bermakna bahwa keberadaan berbagai aspek dari diri seorang manusia, secara bersama-sama berfungsi dan berespon untuk mewujudkan keutuhannya. Karena keutuhan ini maka manusia itu unik, berbeda dari manusia lain. Manusia juga diyakini sebagai sistem terbuka (openned system), yang berinteraksi dengan manusia lain dan lingkungannya secara dinamis, berkesinambungan dan itu semua penting untuk perkembangan personalnya.
Pandangan dasar tentang manusia ini, yang dalam paradigma keperawatan merupakan fokus sentral pada saatnya memberi arah pada eksplorasi tentang human science , human responses (to health and illness) dan human care serta menuntun perawat untuk memahami dan memperlakukan manusia lain (klien) secara utuh, unik dan manusiawi. 

Sehat/Kesehatan .Sehat seperti dinyatakan WHO adalah a state of complete physical,mental and social wellbeing, not merely the absence of disease or infirmity, atau dikatakan sebagai kondisi yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial dan tidak sekedar bebas dari penyakit dan kelemahan. Definisi tersebut mengandung makna bahwa sehat merupakan kondisi multidimensi yang paling tidak mencakup lima dimensi yang berbeda sebagai standar minimal untuk dinyatakan sebagai sehat (sempurna) yaitu kesehatan fisik, mental (fungsi emosional dan intelektual) fungsi sosial, fungsi peran dan persepsi umum tentang wellbeing. Konsep lain dikemukakan oleh Pender (1996:18) mengutip Dubos mengemukakan sehat sebagai a state or conditions that enables the individuals to adapt to the environment; the degree of health experienced is dependent to one’s ability to adjust to the various internal and external tensiona that one faces. Dari kutipan tersebut sehat dikatakan sebagai kondisi yang memungkinkan bagi seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungannya; “tingkatan” kondisi sehat yang dialami tergantung pada kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai tekanan baik internal maupun eksternal yang dihadapi.
Watson (1985:48) menyatakan sehat sebagai unity and harmony within the mind,body and soul. Its also associated with the degree of congruence between the self as perceived and the self as experienced, Such a viewed of health focuses on the entire nature of the individual in his or her physical,social.esthetic and moral realms-instead of just certain aspects oh human behavior and physiology. Definisi tersebut mengungkap bahwa sehat merupakan kondisi yang utuh dan selaras antara badan,pikiran dan jiwa; dan ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian antara diri yang dipersepsikan dan diri yang diwujudkan. Pandangan tentang kesehatan berfokus pada individu secara utuh meliputi hal-hal yang bersifat fisik,sosial,etis dan moral, tidak sekedar berfokus pada aspek-aspek perilaku dan fisiologi manusia semata. Sedangkan Carieri &Co.(1980) dalam bukunya Basic Human Needs menyatakan sehat sebagai a state in which needs are being sufficiently met, dalam hal ini seseorang dikatakan sehat bila kebutuhan dasarnya terpenuhi. Dalam hal sehat-sakit sebagai suatu rentang, Halbert Dunn seperti dikutip Pender (1996:19) mengemukakan bahwa sehat optimum atau dalam istilahnya disebut high level of wellness merupakan an integrated human functioning that is oriented toward maximizing the potential health of which the individual is capable- this requires that the individual maintain balance and purposeful direction within the environment where he is functioning. Konsep tersebut menekankan peran lingkungan bagi seseorang untuk memaksimalkan kesehatan potensialnya melalui integrasi berbagai fungsi manusiawinya, dan untuk ini seseorang perlu mempertahankan keseimbangan dan arah dalam lingkungan dimana ia berfungsi.
Dari beberapa konsep sehat (dan sakit/illness) diatas dapat dikemukakan beberapa hal prinsip antara lain :
  • Sehat menggambarkan suatu keutuhan kondisi seseorang yang sifatnya multidimensional, yang dapat berfluktuasi tergantung dari interrelasi antara faktor-fkator yang mempengaruhi
  • Kondisi sehat dapat terwujud bila kebutuhan dasar manusiawinya terpenuhi
  • Kondisi sehat dapat dicapai karena adanya kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan baik internal maupun eksternal
  • Sehat tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang berhenti pada titik tertentu, tetapi berubah-ubah tergantung pada kapasitasnya untuk berfungsi pada lingkungan yang dinamis
  • Sehat sebagai suatu kondisi keseimbangan yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh (manusia) karena keberhasilannya menyesuaikan diri terhadap pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu (agent,environment).
Dalam konteks rentang sehat sakit, ada tiga faktor utama yang berperan yaitu host, agent dan environment. Agent merupakan substances or factors which have been related directly or indirectly to some particular disease state (Spradley & Allender,1997:254). Agent yang dapat berupa bahan, elemen (biologis,nutrient,kimia,fisikal atau mekanis) keberadaan/ketiadaannya setelah terjadi kontak yang efektif dengan susceptible human host pada kondisi lingkungan yang mendukung akan berfungsi sebagai stimulus terhadap proses menjadi sakit. Terminologi ini pada umumnya untuk mendiskripsikan infectius agent, sedang untuk non infectius agent merupakan bagian dari environment (lingkungan).

Lingkungan.Lingkungan dikatakan sebagai the aggregate of all external conditions and influences affecting the life and development of an organism, human behavior and society (Leavell & Clarck,1965:57), dalam hal ini segala kondisi eksternal yang melingkupi kehidupan seseorang, berpengaruh terhadap hidup dan perkembangan organisme, perilaku manusia dan masyarakat. Spradley & Allender (1997) mengemukakan bahwa lingkungan terdiri dari empat elemen utama yaitu lingkungan fisik, biologis, sosial dan ekonomi. Lingkungan fisik meliputi iklim, udara, struktur geologi dan geografi. Lingkungan fisik seperti iklim dan udara mempengaruhi manusia seperti temperatur panas dan dingin yang ekstrim; bau, tingkat kebisingan yang tidak favourable bagi manusia untuk menjalankan aktifitas dan kehidupan; sehingga perlu ada upaya kontrol agar manusia dapat menjalankan fungsi fisiologisnya secara optimal. Lingkungan yang berkenaan denagn struktur geologi dan geografi- apakah merupakan area yang aman dan nyaman bagi manusia untuk tumbuh, berkembang dan menjalani aktifitas kehidupannya; Lingkungan biologis merupakan segala sesuatu yang hidup baik binatang atau tanaman, yang melingkupi kehidupan seseorang. Berbagai jenis mahluk hidup non manusia dari banyak penelitian diketahui sebagai penyebab atau pembawa kuman penyakit tertentu; Lingkungan sosial ekonomi, kedua hal ini sosial dan ekonomi saling tergantung dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan sosial berkaitan dengan lingkup asosiasi/pergaulan seseorang dan karena kondisi sosial ekonomi merupakan faktor penentu pada lingkup/eksistensi sosial seseorang maka lingkungan sosial dan ekonomi dikaitkan satu dengan yang lain. Ada pandangan mendasar tentang hubungan dua hal ini, yaitu makin rendah status sosial-ekonomi makin tinggi prevalensinya terhadap penyakit; atau ada asosiasi antara rendahnya pendapatan dan kerentanan tetrhadap penyakit meskipunn tingginya pendapatan tidak menjamin bahwa seseorang terjaga kesehatannya. Oleh karenanya perhatian harus diberikan pada bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi proses terjadinya penyakit dan ketidak seimbangan. Menempatkan lingkungan sebagai salah satu elemen utama paradigma keperawatan berarti bahwa pemahaman terhadap konsep lingklungan dibutuhkan sehingga kajian terhadap dampaknya pada ketidak seimbangan fungsi-fungsi manusiawi diperhitungkan dan program pengurangan resiko (risk reduction program) sebagai upaya prevensi dapat diwujudkan. 

KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESIMenelaah esensi profesi dan esensi keperawatan , penulis sampai pada telaah eksistensi keperawatan sebagai profesi:
1. Profesi mensyaratkan pendidikan yang memadai untuk meletakkan dasar-dasar professional bagi para praktisinya. Pendidikan yang memadai memang mengandung multi tafsir, sangat tergantung pada konteks dan jamannya. Pada era Florence Nightingale dan sesudahnya pendidikan yang memadai cukup dimaknai dengan latihan ketrampilan dan perlakuaan layak bagi orang sakit , kemampuan tersebut lebih ditekankan pada karakteristik vokasi yang saat itu diemban. Dengan perkembangan kompleksitas masalah yang dihadapi manusia dalam rentang sehat sakit dan relasinya dengan kekinian, pendidikan yang memadai dimaknai sebagai sejauh mana pendidikan keperawatan dapat menyiapkan para profesionalnya memberi solusi pada masalah-masalah kritis baik secara klinis ,manajerial maupun pada tatanan kebijakan. Kapasitas ini ditumbuhkan dan dibangun melalui kompetensi kognitif,afektif dan psikomotor secara komprehensif guna menelaah fenomena yang dihadapi / dialami klien sebagai manusia, merumuskan diagnosis dan mengambil keputusan, serta menentukan perlakuan yang etis-rasional dan musiawi.
Kompetensi ini pada dasarnya dibangun untuk menjamin bahwa pelayanan profesional yang diterima masyarakat aman dan berkualitas. Kemampuan-kemampuan profesional ini harus ditumbuhkan pada lingkungan pendidikan tinggi , dan secara universal pendidikan keperawatan memang tumbuh pada lingkungan yang dipersyaratkan ini (di beberapa negara pendidikan keperawatan sudah sampai pada level doktoral, di Indonesia sampai level magister), sehingga kapasitas profesional memang selayaknya melekat pada para praktisi keperawatan.

2.Profesi mempunyai pengetahuan , konsep dan teori sebagai landasan untuk mengembangkan ketrampilan , kemampuan dan norma-norma. Dari paparan esensi keperawatan diatas berbagai konsep dan teori telah mengemuka , sejak Florence Nightingale (1859) mengemukakan bahwa disease is a reparative process dan imbalances between patient and physical environment frustates energy conservation and decreases the capacity for health , Virginia Henderson (1961) yang menulis tentang …the unique function of the nurse is to assisst the individual, sick or well, in the performance of activities contributing to health or its recovery ( or to a peaceful death) that he would perform unaided if he had the necessary strength,,will or knowledge… dari tulisan ini ada beberapa konsep penting dan pada akhirnya memberi landasan untuk membangun kapasitas professional, antara lain bahwa bantuan keperawatan bukan hanya bagi orang sakit tetapi juga orang sehat dalam menjalankan aktifitas (kesehatannya) yang tidak dapat dilakukan apabila seseorang tidak punya kemampuan, kemauan atau pengetahuan.
Dalam konteks ini bantuan keperawatan diperlukan apabila seseorang tidak mampu,tidak mau, atau tidak tahu bagaimana menjalankan aktifitas untuk mencapai dan mempertahankan kondisi sehat. Hal penting lain adalah bantuan keperawatan diarahkan untuk membantu agar pasien menjadi mandiri dalam menjaga kesehatannya. Pernyataan tersebut memberi implikasi bahwa peran yang disandang perawat care provider ,educator dan motivator. Konsep penting yang juga mengemuka dari tulisan tersebut adalah bantuan keperawatan bukan hanya berhenti pada kondisi sembuh tidaknya seseorang dari sakit, tetapi …to a peaceful death ….menyongsong kematian secara damai dan bermartabat. Tidak seperti profesi lain bila seseorang tidak lagi dapat disembuhkan kemudian angkat tangan, tetapi pendampingan klien diambang kematian agar yang bersangkutan dapat melalui fase-fase denial (penolakan) – anger (marah) – bargaining (tawar-menawar dengan Tuhan) – depresi – sampai menerima sehingga pada akhirnya siap dan dapat menyongsong kematian secara damai , menjadi tanggung jawab perawat.
Penggagas teori yang lain, Dorothea Orem mengemukakan tiga teori yang saling berkaitan yaitu self-care, self-care deficit dan nursing systems. Konsep yang mendasari teori ini adalah bahwa pada dasarnya seseorang mempunyai kebutuhan akan provisions dan manajemen aktifitas self-care nya (sesuai dengan tingkat tumbuh kembangnya) secara terus menerus untuk dapat mempertahankan hidup, kesehatan dan memulihkan diri dari sakit. Apabila karena berbagai sebab , kemampuan self-care nya (self care ability) tidak sebanding dengan tuntutannya (self care demand) maka akan terjadi self-care deficit. Apabila terjadi self-care deficit inilah bantuan keperawatan dibutuhkan. Bantuan keperawatan ini diberikan dengan acuan nursing systems yang dirancang melalui tiga bentuk intervensi yaitu wholly, partially compensatory atau supportive-educative .Wholly nursing system merupakan bentuk intervensi keperawatan yang dilakukan melalui bantuan secara total , dalam konteks ini pasien tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri sehingga perawat mengambil alih – memberikan bantuan secara menyeluruh. Kondisi ini terajadi bila ketiga aspek – kemampuan,kemauan, dan pengetahuan- nya berada pada tingkat deficit. Partially compensatory nursing system, merupakan bentuk bantuan keperawatan yang sifatnya parsial, klien masih mempunyai kemampuan-kemauan dan atau pengetahuan tetapi tidak cukup untuk membantu dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedangkan bantuan yang sifatnya suportif-edukatif merupakan bentuk bantuan yang sifatnya untuk memberdayakan kapasitas klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya melalui pendidikan dan atau motivasi. Berbagai bentuk intervensi keperawatan tsb sesuai dengan kompleksitas masalahnya dapat dilakukan secara independen maupun interdependen (kolaboratif). Intervensi keperawatan yang sifatnya independen menyangkut masalah pasien yang murni dalam lingkup garap keperawatan, sedangkan intervensi interdependen menyangkut masalah yang mempunyai keterkaitan dengan lingkup garap profesi lain. Intervensi kolaboratif , menekankan prinsip equality dari ketiga dimensi, yaitu dimensi tanggung jawab, dimensi kewenangan dan dimensi afeksi.
Penggagas teori lain, Maidelin Leininger dengan teorinya transcultural nursing mengemukakan konsep tentang latar belakang budaya sebagai aspek yang sangat berpengaruh terhadap perilaku sehat seseorang, intervensi keperawatan karenya harus menyertakan pandangan dan latar belakang budaya klien sebagai pertimbangan.
Jean Watson merupakan penggagas teori yang banyak mempengaruhi pendekatan keperawatan dan meletakkan dasar humanism pada keseluruhan aspek bidang kajian keperawatan. Konsep yang dikemukakan tentang esensi manusia dengan keutuhan dan sifat-sifat kemanusiaannya serta esensi caring menjadi fondasi bagaimana seharusnya perawat memperlakukan manusia lain (termasuk pasien/klien) dan diri sendiri.Ada sepuluh carative factors , yang mestinya menjadi pembentuk perilaku caring yaitu :
  • Forming a humanistic – altruistic
  • Instilling faith & hope
  • Cultivating sensitivity to one’s self
  • Developing a helping – trust relation
  • Expressing & feeling
  • Using creative problem-solving caring process
  • Promoting interpersonal teaching – learning
  • Providing a supportive, protective, or corrective mental-phisical sociocultural & spiritual environment Assisting with the gratification of human needs
  • Allowing for existential-phenomenologic forces
Dari kesepuluh carrative factors diatas, Caring dalam keperawatan menyangkut upaya memperlakukan klien secara manusiawi dan utuh sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya (Watson,1985) ini berkenaan dengan proses yang humanitis dalam menentukan kondisi terpenuhi tidaknya kebutuhan dasar manusia dan melakukan upaya pemenuhannya melalui berbagai bentuk intervensi yang bukan hanya berupa kemampuan teknis tetapi disertai “warmth, kindness, compassion”
3. Profesi mempunyai bidang garap dan layanan yang spesifik, serta standar sebagai acuan. Dari paparan terdahulu dalam tulisan ini , dikemukakan bidang garap (domain) profesi menyangkut tiga aspek yaitu fokus telaahan, lingkup garapan , basis intervensi. Fokus telaahan keperawatan adalah respon manusia dalam menghadapi masalah kesehatannya, baik yang sifatnya actual maupun potensial; Lingkup garapan keperawatan adalah kebutuhan dasar manusia, penyimpangan dan upaya pemenuhannya; basis intervensi keperawatan adalah ketidak mampuan- ketidak mauan- dan ketidak-tahuan klien akan masalah kesehatan, bagaimana seharusnya berespon atau bagaimana mengidentifikasi kebutuhan dasarnya dan potensi untuk memenuhi nya serta mendayagunakannya. Untuk dapat menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan domain profesi, diperlukan seperangkat atribut profesi termasuk diantaranya standar profesi yang merupakan acuan bagi perawat untuk bertindak dan berperilaku professional. Didalam profesi keperawatan, ada tiga jenis standar yaitu standar struktur, standar proses dan standar hasil. Standar Struktur merupakan acuan kriteria kualifikasi perawat, persyaratan kerja dan berbagai perangkat kerja yang harus memenuhi kualitas tertentu; standar proses merupakan seperangkat acuan untuk setiap langkah prosedur yang diperlukan perawat dalam menjalankan profesinya, sedangkan standar hasil adalah acuan outcome yang semestinya sesuai dengan kriteria tolok ukur pencapaian apabila standar struktur dan standar proses dipenuhi.
4. Anggota profesi mempunyai otonomi dan kewenangan untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal yang menjadi lingkup garap keprofesian. Otonomi berkenaan dengan kemandirian untuk melakukan peran profesional sesuai dengan lingkup kewenangannya. Kewenangan merupakan dasar legal untuk bertindak. Kewenangan (authority) dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu By expertise,by position dan by situation. Idealnya kewenangan by expertise yang menjadi dasar legal untuk bertindak, tetapi di keperawatan ada berbagai kelemahan, diantaranya karena didalam karya kesehatan, perawat menjadi satu-satunya pekerja professional yang menjalankan tugas pendampingan klien selama 24 jam, pada akhirnya banyak fungsi harus yang dijalankan disertai hanya dengan kewenangan by position atau by situation, dan pada kebanyakan kasus apabila ditelaah lebih lanjut hanya merupakan tugas limpahan. Apakah kondisi yang seperti ini dapat diterima secara professional ? Bagaimana mekanisme pertanggung gugatan untuk fungsi-fungsi yang dilakukan sejalan dengan tugas limpahan ? Bagaimana kompensasi income untuk tugas limpahan? Banyak hal yang masih harus ditelaah secara multidisiplin tentang peran yang berkaitan dengan otonomi dan kewenangan ini.
5. Profesi mempunyai kode etik untuk menuntun anggota profesi dalam menjalankan aktifitas profesionalnya, serta melindungi masyarakat konsumennya. Etik diartikan sebagai …the reasoned analysis and disciplined inquiry of relationships underlying the moral code of a particular group…(Joel,Lucille A,2003:216). Etik mencari dan menemukan jawaban terhadap apa yang harus dipertimbangkan, apa yang harus dilakukan pada suatu situasi tertentu. Ada beberapa area inquiry yaitu deskriptif, normative dan metaetik. Area deskriptif etik, mengidentifikasi, menjabarkan dan menjelaskan fenomena dari keyakinan dan perilaku moral. Pengambilan keputusan etis pada situasi kritis dalam asuhan keperawatan adalah salah satunya. Etik normative berkenaan dengan acuan benar atau salah ; meta etik mengkaji inquiry etis . Ini lebih merupakan teori etik dari pada teori tentang perilakuetis. Kajian yang berkaitan dengan makna advocacy,accontability, dan prinsip-prinsip etik adalah bagian dari meta etik. Secara bersama ketiga area etik dapat digunakan untuk menelaah fenomena (seperti euthanasia). Etik deskriptif untuk menelaah fenomena moral dari euthanasia, kemudian menggunakan etik normatif untuk berargumen tentang akontabilitas moral dari perawat, dan akhirnya menggunakan meta etik untuk menjelaskan makna akontabilitas dalam praktik keperawatan tsb. Secara sederhana etika berkenaan dengan pengkajian kehidupan moral secara sistematis dan dirancang untuk melihat apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dipertimbangkan sebelum tindakan tsb dilakukan, dan ini menjadi acuan untuk melihat suatu tindakan benar atau salah secara moral. Terdapat beberapa prinsip etik dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan ,yaitu : • autonomy (penentu pilihan) • nonmaleficence ( do no harm) • beneficence (do good) • justice (perlakuan adil) Keempat prinsip terebut harus senantiasa menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama yang menyangkut dilemma etis : apakah otonomi klien dihargai ; apakah keputusan ini mencegah konsekuensi bahaya; apakah tindakan ini bermanfaat , untuk siapa; apakah keputusan ini adil ? Untuk alasan moral, hak-hak klien harus dihargai dan dilindungi. Hak-hak tersebut menyangkut kehidupan,kebahagiaan, kebebasan,privacy,self-determination,perlakuan adil dan integritas diri.
Dalam konteks pelayanan, klien berhak terhadap layanan/asuhan, informed concent, kerahasiaan, kualitas hidup, meninggal dengan bermartabat. Martabat dalam konteks ini memperlakukan klien tanpa mempertimbangkan status, keyakinan,pandangan politik dan keagamaan serta jenis kelamin. Etika profesi keperawatan mengandung pertimbangan moral suatu keputusan klinis yang membutuhkan analisis nilai-nilai filosofis dan pertimbangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika yang relevan.Etika profesi keperawatan membimbing perilaku dan tindakan profesional keperawatan. Kode etik profesi melindung masyarakat dari intervensi/tindakan yang tidak etis dan mengabaikan nilai-nilai moral; dan melindungi perawat dari tuntutan masyarakat. 

PENUTUPMenelaah esensi profesi dan karakteristik profesi pada esensi keperawatan sebagai human science dan human care, secara filosofis keperawatan benar keberadaannya sebagai profesi. Ada beberapa hal pada tataran praktis yang masih menjadi kelemahan dan karenanya perlu telaah dan pengembangan lebih lanjut terutama berkenaan dengan otonomi dan kewenangan keperawatan. 

 KEPUSTAKAAN
  • Anderson,J.,1996,THINKING MANAGEMENT: Focusing On People,Victoria : Ausmed Publication Kemp,B., 1993, Fundamentals Of Nursing : A Frame Of Practice, Boston : Little Brown AndCo. Dochtsmar And Grace, 2001, Current Issues In Nursing, St. Louis : Mosby Inc.
  • Hodges, Et. Al., 1988 : Nursing From Education to Practice, Norwalk:Appleton An Lange
  • Mc. Closkes,J.,1994 : Current Issues In Nursing Joel,L.,2003, Dimensions of Professional Nursing, 9th ed.,New York : Mc Graw – Hill
  • Johnson,Megan-J,1994, BIOETHIC : A Nursing Perspective, 2nd Ed.,WB Saunders
  • Magnis-Suseno,F.,1991, Berfilsafat dari Konteks, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Perry & Potter ,2005, Fundamentals of Nursing, Adelaide :Elsvier
  • Watson,J.,1985, Nursing : Human Science and Human Care Http://Amsn.Nurse.Com/Resource/Curricul.Htm, AMSN Official Position Statement On Identification Of The Register Nurse In The Work Place.
  • Http://Www.Nursing Power.Net/Nursing/Sps.Html: ANA-Nursing’s Social Policy Statement. Http://Www.Nursing World.Org/Ojin/Topic 15/Tpc 156.Htm Nursing And Scope Of Practice Of Registered Nurses Performing Complimentary Therapies.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls